Landasan Pemikiran (kenapa
BeL nampangin artikel ini);
- Gara-garanya BeL
abis ikutan Try Out di salah satu LBB and paz waktu itu BeL liat salah
satu brosurnya menyertakan pilihan2 jurusan kuliah berbagai macem PTN,,
nah tertarik punya minat. BeL ngelirik salah satu jurusan di PTN yang
terkenal dengan symbol-nya Gajah Muda dengan tulisan Teknik Nuklir,, BeL ngerasa love @ the first sight
getu.. (gag masuk akal) hehehe… And BeL punya keinginan buat jadi seorang
Teknisi Nuklir perempuan pertama di
Indonesia
(widih!! Ngimpi lu ketinggian Bu!)… So
what!?
- BeL penasaran ama
benda yang atu niy.. Akhir2 ni Nuklir masih menjadi kontroversi di
Indonesia
.. kenapa pada bilang kalo Nuklir itu
berbahaya bagi lingkungan dan menimbulkan dampak yang amat buruk.. (Haduh!
I try to figure it out…)
- Trus ada yang
bilang Nuklir juga menguntungkan bagi kehidupan manusia modern saat ini
karena Nuklir merupakan salah satu energi alternatif apabila energi-energi
yang lain sudah mengalami penurunan (misalnya sekarang semakin menipisnya
sumber energi batubara)
- Sebenernya BeL ada
niatan mo ambil tuh jurusan but,, banyak temen2 BeL yang nyaranin buat gag
masuk kesana. Selaen BeL seorang cewek, BeL juga termasuk makhluk cakep
(Busyet!) yang memiliki resiko lebih besar untuk terkena imbas radioaktif
dari Nuklir itu.. Diantaranya yang mereka sebutin tuh; mengakibatkan
mutasi dalam diri BeL (yang parahnya dapat nyebabin kerusakan fungsi organ
tubuh,, paling apes bisa Gila,, itu asumsi gag ya?) and yang paling apess
bisa2 BeL ManduL!!?? Oh My Dog!! Segitu parahnya-kah??
Maka daripada itu dan demikian pula BeL meminta bantuan dari
Professor2 ulung, Bapak/Ibu dosen, para ahli teknisi, para mahasiswa-i, para
intelektual muda-i, semua orang yang merasa mengetahui hal ini. setelah membaca
artikel ini tolong kasih sedikit informasi untuk BeL dari keuntungan, bahaya
(ke fisik, lingkungan, or something yang dari artikel yang BeL kasih mungkin
masih kurang). Artikel ini BeL ambil dari beberapa website yang disana
menyatakan beberapa keuntungan beserta dampak kerugian dari energi Nuklir ini
(BeL sekalian menyertakan proses bagaimana Baterai Nuklir itu dibuat) jadi buat
yang ngerasa males baca bisa langsung ke artikel yang kedua dan BeL sengaja
ngasih tanda berwarna pada bagian2 yang penting biar lebih mudah nangkepnya,,
biarpun BeL masih lom menempuh bidang ini yagh minimal BeL gag goblok2 amat lah
kalo diajak ngomong orang soal nuklir (ketauan bego-nya). Biarpun BeL juga
masih butuh banyak belajar disana-sini. Kalaupun nantinya banyak pertimbangan
dari kalian semua yang membuat BeL mundur, bukanlah menjadi halangan besar bagi
BeL karena ilmu yang kalian sumbang lebih besar manfaatnya bagi BeL untuk kedepannya…
So please give me u’r some info.. Thank’s before and after..
1st Article
Baterai Nuklir: Sumber Arus Searah yang Perlu
Dikembangkan
Pendahuluan
Untuk mendapatkan tenaga listrik dari energi nuklir, sejauh
ini sudah banyak dilakukan melalui PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir) dan manfaatnya sudah
sangat terasa bagi negara-negara maju, terutama dalam menggerakkan
perindustriannya disamping untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik bagi rumah
tangga. Tenaga listrik yang
dihasilkan oleh PLTN adalah berasal dari reaksi fisi (pembelahan) yang
menghasilkan panas sangat besar. Panas yang sangat besar ini digunakan untuk
menghasilkan uap bertekanan tinggi yang kemudian uap tersebut digunakan untuk
menggerakkan turbin yang dihubungkan ke generator, sehingga akan diperoleh
tenaga listrik. Sedangkan
pemanfaatan energi nuklir melalui reaksi fusi (penggabungan) yang panasnya jauh
lebih besar dari pada reaksi fisi, sampai saat ini masih dalam taraf penelitian
mengingat belum ditemukan bahan yang tahan terhadap tekanan tingi dan juga suhu
tinggi dengan orde ratusan ribu derajat Celcius. Pemanfaatan
energi nuklir untuk menghasilkan tenaga listrik sejauh ini memang sudah
terbukti dapat bersaing dengan tenaga listrik yang diperoleh secara
konvensional melalui pemakaian energi primer (batubara dan minyak) maupun
melalui pemakaian energi terbarukan (air, panas bumi dan matahari). Selain dari
itu, para ahli pada saat ini juga akan melengkapi kemampuan energi nuklir
dengan cara lain untuk menghasilkan tenaga listrik arus searah (tenaga
baterai/DC), tidak hanya tenaga listrik arus bolak-balik (AC) seperti yang
sudah dikenal selama ini melalui PLTN. Cara lain yang dimaksud adalah tidak
dengan memanfaatkan panas dari hasil reaksi fisi maupun fusi, akan tetapi
memanfaatkan proses terjadinya reaksi peluruhan (decay process) pada setiap
bahan radioaktif. Pada reaksi peluruhan ini yang dimanfaatkan adalah radiasi
nuklir itu sendiri yang disertai dengan pelepasan adioiso atau muatan listrik
dan juga kemampuan menumbuk bahan untuk menghasilkan adioiso sekunder yang
dapat diubah menjadi tenaga listrik. Bila hal ini bisa direalisasikan maka tenaga
listrik yang diperoleh dari hasil proses peluruhan zat radioaktif akan dapat
menambah sumber tenaga listrik arus searah, disamping sumber arus searah
(tanaga baterai) yang telah dikenal secara konvensional berupa baterai kimia
sel basah maupun sel kering.
Proses Peluruhan Zat Radioaktif
Proses peluruhan zat radioaktif
sebenarnya adalah adioisotope dari suatu zat radioaktif atau adioisotope dalam
rangka keseimbangan menuju kepada energi dasarnya (ground state energy).
Proses peluruhan zat radioaktif yang terjadi berkaitan erat dengan jenis
radiasi nuklir dari suatu adioisotope. Untuk itu, perlu diketahui beberapa
jenis radiasi yang mengikuti terjadinya proses peluruhan tersebut. Jenis
radiasi yeng dimaksud sebenarnya ada 8 macam, namun yang akan dijelaskan hanya
yang dalam proses peluruhannya menghasilkan adioiso atau yang dapat menyebabkan
ionisasi langsung saja, yaitu radiasi yang dipancarkan oleh adioisotope yang
digunakan dalam baterai nuklir. Jenis radiasi tersebut adalah : 1.
Radiasi Alpha (a)
Radiasi ini pada umumnya terjadi pada elemen berat,
yaitu atom yang nomor massanya besar (mohon dilihat adioi adioiso/adio
berkala) yang tenaga ikatnya rendah, yaitu tenaga ikat
antara adioiso dan inti atomya rendah. Radiasi
Alpha pada umumnya diikuti juga oleh peluruhan radiasi Gamma. Atom yang
mengalami peluruhan radiasi Alpha, nomor massanya akan berkurang 4 dan nomor
atomnya berkurang 2, sehingga radiasi Alpha disamakan dengan pembentukan inti
Helium yang bermuatan listrik 2 dan bermassa 4. Contoh peluruhan radiasi Alpha adalah peluruhan
Plutonium menjadi Uranium yang reaksinya sebagai berikut:
94Pu239––>2He4
+ 92U235 (2He4 = radiasi Alpha)
2. Radiasi Beta Negatif (b-)
Radiasi Beta Negatif disamakan dengan pemancaran adioiso
dari suatu inti atom. Bentuk radiasi ini terjadi
pada inti yang kelebihan adioiso dan pada umumnya juga disertai juga dengan
radiasi Gamma. Pada radiasi Beta Negatif, nomor
atom akan bertambah 1, sedangkan nomor massanya tetap. Contoh peluruhan
radiasi Beta Negatif adalah :
56Ba140
––>-1e0 + 57La140(-1e0
= adioiso adioiso)
3. Radiasi Beta Positif (b
+)
Radiasi ini sama dengan pancaran positron (adioiso
positif) dari inti atom. Bentuk peluruhan ini terjadi pada inti yang kelebihan
proton. Pancaran positron dapat terjadi bila perbedaan energi antara
inti semula dengan inti hasil perubahan (reaksi inti) paling tidak sama dengan
1,02 MeV. Radiasi Beta Positif akan selalu diikuti
dengan peristiwa annihilasi atau peristiwa penggabungan, karena begitu
terbentuk zarah Beta (+) akan langsung bergabung dengan adioiso (-) yang banyak
terdapat di adioiso dan menghasilkan radiasi Gamma yang
lemah. Contoh radiasi Beta Positif :
7N13
––> +1e0 + 6C13 (+1e0
= adioiso positif / positron)
+1e0 + -1e0
––> 200(menghasilkan 2 foton Gamma)
Jenis radiasi lainnya (radiasi Gamma, radiasi Neutron dan lain sebagainya)
tidak dibahas dalam kaitannya dengan baterai nuklir, karena dalam peluruhannya
tidak menghasilkan adioiso atau muatan listrik yang langsung dapat mengionisasi
medium yang pada akhirnya dapat diubah menjadi tenaga listrik arus searah.
Selain dari itu, radiasi Gamma dan Neutron mempunyai
daya tembus yang sangat besar, sehingga menyulitkan untuk mengukungnya agar
radiasi tidak menembus dinding baterai nuklir. Kalaupun dinding baterai
nuklir dibuat tebal, akan berdampak pada masalah biaya dan secara teknis akan
kalah bersaing dengan sumber radiasi Beta (b-)
yang banyak digunakan dalam baterai nuklir.
Berbagai Macam Baterai Nuklir
Pemanfaatan energi nuklir untuk
diubah menjadi tenaga listrik arus searah (DC) adalah karena timbulnya adioiso
atau muatan listrik pada peristiwa peluruhan zat radioaktif. Oleh karena
itu, sumber arus searah baterai nuklir ini berasal dari adioisotope yang
memancarkan radiasi Alpha, Beta Negatif maupun Beta Positif. Mengingat daya
tembus radiasi Alpha sangat kecil, maka adioisotope pemancar Alpha jarang
digunakan, karena menyulitkan dalam proses pembuatannya, kecuali bila akan
dimanfaatkan untuk mengionisasi langsung medium baterai nuklir. Radioisotop pemancar Beta Positif (b+) jarang
digunakan sebagai sumber tenaga baterai nuklir karena sumber baterai nuklir
adalah adioisotope pemancar radiasi Beta Negatif (b-).
Kemampuan sumber radiasi untuk menghasilkan adioiso sekunder dalam tumbukannya
dengan medium baterai nuklir, juga dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam
memilih sumber adioisotope. Penelitian dan pengembangan
pembuatan baterai nuklir sangat menarik perhatian para ahli, karena tegangan
yang diperoleh dari baterai nuklir adioiso konstan dan bisa mencapai orde
beberapa ribu volt, sehingga sangat menguntungkan dalam pemakaiannya. Sedangkan
umur pakainya sangat panjang, bisa mencapai 2 kali
waktu paro adioisotope yang digunakan. Namun demikian, efisiensinya dan
arus yang dihasilkan sejauh ini masih rendah, untuk itu perlu ditingkatkan
lebih jauh lagi. Adapun rendahnya arus yang dihasilkan
karena adanya pengaruh nuclear barrier transmission (d)
yang dinyatakan dalam persamaan :
di mana : X1
dan X2 = titik partikel pada saat masuk dan meninggalkan potensial
barrier.
M=
massa
partikel.
V(x)= potensial energi sebagai fungsi barrier.
T= energi adiois partikel.
h= konstanta Planck.
Mengingat bahwa nuclear barrier transmission merupakan fungsi
dari
massa
adioisotope yang
digunakan dan energi adiois radiasi yang dipancarkan, maka usaha untuk meningkatkan arus harus
memperhatikan sumber adioisotope yang digunakan dan juga energi adiois
radiasinya.
Berbagai macam model baterai nuklir yang sudah dikembangkan sejauh ini
adalah sebagai berikut;
1. Baterai nuklir “high speed electrons battery”:
Baterai ini dinamakan juga dengan baterai nuklir Beta, sesuai dengan jenis
radiasi yang dipancarkan oleh adioisotope yang digunakan. Baterai nuklir ini bisa menghasilkan tegangan
sampai beberapa ribu volt. Tegangan yang tinggi ini dipengaruhi oleh
kerapatan isolator yang digunakan, sehingga tidak terjadi kebocoran yang dapat
menimbulkan ionisasi udara di sekitar terminal elektrodenya. Arus yang
dihasilkan masih rendah dan perlu dinaikkan lagi dengan memperhatikan masalah nuclear
barrier transmission seperti yang diuraikan di atas. Radioisotop yang
digunakan dalam baterai ini adalah Strontium-90 (Sr90) yang
mempunyai waktu paro 28 tahun, sehingga umur pakai baterai nuklir jenis ini
bisa dua kali waktu paronya, yaitu 56 tahun. Bagan baterai nuklir jenis ini
dapat dilihat pada Gambar 1.
2. Baterai nuklir “contact potential difference battery”
Baterai nuklir ini sering disingkat dengan baterai CPD (Contact
Difference Potential). Elektrode yang digunakan adalah 2 jenis bahan logam
yang mempunyai sifat “work function” yang sangat berbeda. Work function suatu bahan adalah energi yang diperlukan untuk
membebaskan adioiso keluar orbitnya. Bahan adioisot yang mempunyai sifat
work function yang sangat jauh berbeda adalah Seng (Zn) dan Karbon. Ruang
diantara kedua adioisot, yaitu antara bahan logam yang mempunyai sifat “work
function” tinggi dan bahan logam yang mempunyai “work function” rendah, diisi
medium berbentuk gas, yaitu Tritium yang setiap saat dapat diionisasikan oleh adioisotope
menghasilkan adioiso dan ion positif. Hasil ionisasi (adioiso dan ion) akan
menuju ke masing-masing elektrodenya sesuai dengan muatan listrik yang
dibawanya. Penyerahan muatan listrik ke masing-masing adioisot akan menimbulkan
arus listrik searah secara berkesinambungan. Radioisotop
yang digunakan sama dengan baterai nuklir pertama, yaitu Strontium 90 (Sr90).
Bagan baterai nuklir CPD dapat dilihat pada Gambar 2.
3. Baterai nuklir PN junction
Baterai nuklir ini memanfaatkan sifat adioisotope yang dapat menimbulkan
berondongan adioiso (avalanche) pada salah satu elemen diode semikonduktor yang
dipasang di dalam wadah baterai. Bahan semikonduktor yang dapat menghasilkan
berondongan adioiso akibat terkena radiasi adalah Antimon. Sedangkan untuk adioisot
positifnya digunakan Silikon. Berondongan adioiso yang terbentuk akan ditarik
oleh adioisot positif dan pada saat penyerahan muatan listrik akan timbul arus
listrik searah seperti yang terjadi pada baterai nuklir CPD. Baterai nuklir PN junction ini walaupun tegangannya rendah
tapi arus yang dihasilkan jauh lebih besar dari pada baterai nuklir lainnya.
Sumber adioisotope yang digunakan adalah Prometium 147
(Pm147) yang mempunyai waktu paro 2,5 tahun, sehingga umur pakai
baterai nuklir jenis ini bisa mencapai 5 tahun. Bagan baterai nuklir PN
junction ini dapat dilihat pada Gambar 3.
4. Baterai nuklir termokopel
Baterai nuklir jenis ini memanfaatkan panas yang ditimbulkan oleh adioisotope
yang ditempatkan pada bagian dalam wadah yang dilengkapi dengan dua jenis logam
yang bersifat sebagai termokopel. Arus yang timbul dari adanya termokopel dapat
menjadi tenaga baterai. Bagan baterai nuklir jenis termokopel dapat dilihat
pada Gambar 4.
5. Baterai nuklir “secondary emitter”
Baterai nuklir jenis ini menggunakan adioisotope yang dapat menumbuk bahan
target yang peka terhadap radiasi, sehingga akan menimbulkan adioiso sekunder
akibat tumbukan tersebut. Elektron sekunder ini akan dikumpulkan oleh adioisot
yang tidak peka terhadap radiasi. Perbedaan tegangan
pada kedua adioisot tersebut akan menghasilkan arus listrik yang besarnya
proporsional dengan energi yang dibawa oleh adioiso sekunder. Skema
baterai nuklir jenis ini dapat dilihat pada Gambar 5.
6. Baterai nuklir fotolistrik
Baterai nuklir fotolistrik ini memanfaatkan sifat bahan sintilator yang akan
mengeluarkan pendar cahaya (foton) bila terkena radiasi. Pendar cahaya (foton)
yang timbul kemudian diubah menjadi tenaga listrik oleh bahan semikonduktor
yang peka terhadap foton cahaya. Foton cahaya dapat
juga diubah menjadi tenaga listrik oleh sel fotolistrik. Bahan sintilator yang
digunakan dapat berupa Posfor, Natrium Iodida yang diberi Thalium.
Gambar 6 menunjukkan skema baterai nuklir jenis fotolistrik yang
dimaksud.
7. Baterai nuklir “photon junction”
Baterai nuklir ini menggunakan posfor radioaktif (P32) sebagai
sumber radioisotopnya yang diapit oleh bahan semikonduktor. Bahan semikonduktor
diletakkan berhimpitan dengan “semiconductor surface layer” agar dapat terjadi
perpindahan “electron hole” akibat terkena radiasi P32. Adanya perpindahan electron hole pada bahan semikonduktor ini
akan menimbulkan pulsa listrik yang besarnya sama dengan energi pendar cahaya
yang terjadi. Tegangan baterai nuklir ini adioiso konstan. Gambar 7
menunjukkan skema baterai nuklir jenis “photon junction”.
Penutup
Berdasarkan uraian di muka tampak bahwa penelitian dan
pengembangan pembuatan baterai nuklir dari berbagai macam jenis yang pernah
dibuat, masih perlu ditingkatkan lagi untuk memperoleh efisiensi baterai nuklir
yang lebih baik dan juga untuk dapat menaikkan arus listriknya agar diperoleh
daya keluaran yang lebih baik. Umur paro adioisotope yang digunakan akan sangat
mempengaruhi umur pakai baterai dan juga kestabilan tegangan baterai nuklir.
Bahan adioisotope pemancar radiasi Beta yang dapat digunakan menjadi sumber
energi baterai nuklir bisa diperoleh dari hasil fisi yang dihasilkan oleh adiois
nuklir maupun oleh akselerator. Produk adioisotope yang sampai saat ini sudah
dipasarkan menjadi baterai nuklir adalah dari deret Lantanida, yaitu Prometium
(Pm147) yang bisa mencapai umur pakai lebih dari 5 tahun per
baterai. Bila umur paro adioisotope yang digunakan
panjang, maka wadah baterai nuklir harus dibuat sedemikian rupa agar supaya
tidak bocor selama dalam pemakaian, karena hal ini menyangkut masalah
keselamatan lingkungan dan proteksi radiasi.
Satu hal yang perlu diketahui bahwa baterai nuklir yang sudah tidak dipakai
tidak boleh dibuang sembarangan, mengingat di dalamnya mengandung bahan
radioaktif, sehingga pembuangannya memerlukan pengaturan tersendiri sesuai
dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Untuk
Indonesia
pengaturan masalah ini ditetapkan oleh Badan Tenaga Nuklir
atau BAPETEN yang berkedudukan
di
Jakarta
.
Daftar Acuan
- Wisnu Arya Wardhana: “Radioekologi”, Andi Offset,
Yogyakarta
, 1996.
- Wisnu Arya Wardhana: “Aplikasi Teknologi Nuklir”, PATN-BATAN,
Yogyakarta
, 1989.
- Samuel Glasstone: “Source Book On Otomic Energy”,
Van Nostrand
,
New Jersey
, 1971.
- Irving Kaplan: “Nuclear Physics”, Addison Wesley,
London
, 1979.
- Ronald Allen Knief: “Nuclear Energy Technology”, Mc
Graw Hill
,
New York
, 1981.
- Robert I. Sarbacher: “Encyc. Dic. Of Electronics and Nuclear
Engineering”, Prentice Hall Inc.,
Englewood
Cliffs, New Jersey.q
Wisnu Arya Wardhana, Widyaiswara
BATAN
2nd Article
Nuklir Bukan
Alternatif Bagi Rakyat
Sejak tahun 70-an, pemerintah terus ngotot untuk membangun Pembangkit Listrik
Tenaga Listrik (PLTN). Tahun 1998, rencana pembangunan PLTN di Muria gagal
akibat krisis ekonomi. Alasan krisis energi listrik terus dijadikan alasan oleh
pemerintah untuk mempromosikan PLTN.
Rencana pemerintah untuk membangun PLTN dapat dikatakan sebagai langkah
mundur dalam pemilihan energi alternatif. Sebab, ketika di beberapa negara yang
selama ini menggunakan tenaga nuklir berkeinginan menutup reaktor nuklirnya,
justru pemerintah
Indonesia
baru berencana membangunnya.
Amerika
Serikat yag memiliki 110 buah reaktor nuklir atau 25,4% dari total seluruh
reaktor yang ada di dunia, akan menutup 103 reaktor nuklirnya. Demikian halnya
dengan Jerman, negara industri besar ini, juga berencana menutup 19 reaktor
nuklirnya. Penutupan pertama dilakukan pada tahun 2002 kemarin, sedang PLTN
terakhir akan ditutup pada tahun 2021. Keadaan lain juga terjadi di Swedia,
yang menutup seluruh PLTN-nya yang berjumlah 12, mulai tahun 1995. Sampai
negara tersebut bebas dari PLTN pada tahun 2010 mendatang.
Sejarah PLTN di Indonesia
Proses rencana pembangunan PLTN di Indonesia cukup panjang. Tahun 1972, telah dimulai
pembahasan awal dengan membentuk Komisi Persiapan Pembangunan PLTN. Komisi ini kemudian melakukan
pemilihan lokasi dan tahun 1975 terpilih 14 lokasi potensial, 5 di antaranya terletak di
Jawa Tengah. Lokasi tersebut diteliti BATAN bekerjasama dengan NIRA dari
Italia. Dari keempat belas lokasi tersebut, 11 lokasi di pantai utara dan 3
lokasi di pantai selatan.
Pada Desember
1989, Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) memutuskan agar BATAN
melaksanakan studi kelayakan dan terpilihlah NewJec (New Japan Enginereering
Consoltan Inc) untuk melaksanakan studi tapak dan studi kelayakan selama 4,5
tahun, terhitung sejak Desember 1991 sampai pertengahan 1996.
Pada 30 Desember 1993, NewJec menyerahkan dokumen Feasibility Study
Report (FSR) dan Prelimintary Site Data Report ke BATAN. Rekomendasi NewJec
adalah untuk bidang studi non-tapak, secara ekonomis, PLTN kompetitif dan dapat
dioperasikan pada jaringan listrik Jawa –
Bali
di awal tahun
2000-an. Tipe PLTN direkomendasikan berskala menengah, dengan calon
tapak di Ujung Lemahabang, Grenggengan, dan Ujungwatu.
Apa itu Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir?
PLTN
adalah pembangkit tenaga listrik tenaga nuklir yang merupakan kumpulan
mesin untuk pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan tenaga nuklir sebagai
tenaga awalnya. Prinsip kerjanya seperti uap panas yang dihasilkan
untuk menggerakkan mesin yang disebut turbin.
Secara ringkas dan sederhana, rancangan PLTN terdiri dari air mendidih, boild water
reactor bisa mewakili PLTN pada umumnya, yakni setelah ada reaksi
nuklir fisi, secara bertubi-tubi, di dalam reaktor, maka timbul panas atau
tenaga lalu dialirkanlah air di dalamnya. Kemudian uap panas masuk ke turbin dan turbin
berputar poros turbin dihubungkan dengan generator yang menghasilkan listrik.
Dampak Nuklir pada Rakyat
dan Lingkungan
Reaktor nuklir sangat membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa manusia.
Radiasi yang diakibatkan oleh reaktor nuklir ini ada dua. Pertama, radiasi
langsung, yaitu radiasi yang terjadi bila radio aktif yang dipancarkan mengenai
langsung kulit atau tubuh manusia. Kedua, radiasi
tak langsung. Radiasi tak langsung adalah radiasi yang terjadi lewat
makanan dan minuman yang tercemar zat radio aktif, baik melalui udara, air,
maupun media lainnya.
Keduanya, baik radiasi langsung maupun tidak langsung, akan mempengaruhi
fungsi organ tubuh melalui sel-sel pembentukannya. Organ-organ tubuh
yang sensitif akan dan menjadi rusak. Sel-sel tubuh bila tercemar radio aktif
uraiannya sebagai berikut: terjadinya ionisasi akibat radiasi dapat
merusak hubungan antara atom dengan molekul-molekul sel kehidupan, juga dapat
mengubah kondisi atom itu sendiri, mengubah fungsi asli sel atau bahkan dapat membunuhnya.
Pada prinsipnya, ada tiga akibat radiasi yang dapat berpengaruh pada sel. Pertama,
sel akan mati. Kedua, terjadi penggandaan sel, pada akhirnya dapat menimbulkan
kanker, dan Ketiga, kerusakan dapat
timbul pada sel telur atau testis, yang akan memulai proses bayi-bayi cacat. Selain itu, juga menimbulkan luka bakar dan peningkatan jumlah
penderita kanker (thyroid dan cardiovascular) sebanyak 30-50%
di Ukrania, radang pernapasan, dan terhambatnya saluran pernapasan, juga
masalah psikologi dan stres yang diakibatkan dari kebocoran radiasi.
Ada
beberapa bahaya laten dari PLTN yang perlu
dipertimbangkan. Pertama, kesalahan manusia (human error) yang bisa
menyebabkan kebocoran, yang jangkauan radiasinya sangat luas dan berakibat
fatal bagi lingkungan dan makhluk hidup. Kedua,
salah satu yang
dihasilkan oleh PLTN, yaitu Plutonium memiliki hulu ledak yang sangat dahsyat.
Sebab Plutonium inilah, salah satu bahan
baku
pembuatan senjata nuklir. Kota Hiroshima hancur lebur hanya oleh 5 kg
Plutonium. Ketiga, limbah yang
dihasilkan (Uranium) bisa berpengaruh pada genetika. Di samping itu,
tenaga nuklir memancarkan radiasi radio aktif yang sangat berbahaya bagi
manusia.
WALHI
menyerukan agar pemerintah menghentikan rencana pembangunan PLTN di Indonesia, mengingat
potensi dampak negatif yang begitu besar dan mengajak seluruh masyarakat untuk
melakukan hal yang sama.